Skip to main content

Cerpen "Cinta dalam Islam"

                                                            
                                                                CINTA DALAM ISLAM

                           Sudah hampir 2 jam Della duduk disamping makam seseorang yang amat dicintainya. Kedua matanya bengkak menangisi orang yang telah berada dalam kuburan tersebut, yang sering menasehatinya untuk hal dalam kebaikan. Hingga mengubah Della menjadi pribadi yang lebih baik. Ya, orang itu adalah Yazid.

Pada suatu pagi yang cerah, Della yakni siswi SMAN 42 Jakarta menggerutu karena masih menunggu ayahnya yang sedang bersiap - siap untuk mengantar Della ke sekolah sekaligus ia berangkat bekerja, padahal jam sudah menunjukkan pukul 06:15, “Pah, ayo dong cepetan, 15 menit lagi bel sekolah bunyi, nanti aku gak diizinin masuk sama pak satpam”.
Jam sudah menunjukkan pukul 06:20, karena Della sudah lama menunggu ayahnya, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki angkutan umum saja. Saat turun dari angkutan umum, ia bertabrakan dengan seorang pria, “Astaghfirullah, maaf ya saya gak sengaja.”, tetapi belum sempat Della melihat mukanya, orang itu sudah pergi duluan. Della hanya menghafal suara orang itu, suaranya membuat hatinya sejuk.
Della sampai disekolah tepat pada pukul 06:30, setiap pagi pada saat bel masuk dibunyikan, semua siswa dan siswi yang beragama Islam diwajibkan bertadarus. Della memiliki sahabat yang bernama Khalila. Khalila adalah Ketua Rohis perempuan, ia sering menjadi mentor di Ekskul Rohis. Sedangkan Della, ia orang yang keras kepala, manja, dan ia jarang beribadah. Tetapi, sebenarnya dia adalah orang yang berhati lembut. Della berangkat menuju masjid untuk bertadarus bersama dengan Khalila. Pada saat tadarus dimulai, suara yang membaca ayat Al – Quran terasa beda, tidak seperti suara biasanya. Della pun bertanya kepada Khalila, karena Khalila anak Rohis, dia pasti mengetahui apa saja tentang kerohanian Islam di sekolah ini, “La, kok yang baca Al- Quran suaranya kayak bukan suara Ustadz Jamal ya la?”, Khalila menjawab sambil sedikit tertawa, “Lho, emangnya kamu belum tau kalau Ustadz Jamal sudah pindah dari sekolah ini? Yang membaca Al – Quran ini adalah Ustadz Yazid, ia tidak beda jauh umurnya dengan kita. Dia juga tampan. Nanti lama – lama kamu akan kenal kok”.
Tetapi, suara Ustadz Yazid ini seperti pernah didengar oleh Della. Akhirnya, Della ingat suara itu. Ternyata, suara itu adalah suara yang tadi pagi meminta maaf karena sudah menabrak Della. Karena Della penasaran dengan muka orang itu, akhirnya Della meminta Khalila menemaninya untuk bertemu dengan Ustadz Yazid pada saat selesai tadarus. Pada saat bertemu, Della langsung bertanya pada Ustadz Yazid, “Kamu yang menabrakku tadi kan saat aku turun dari angkutan umum?”, Khalila langsung menyaut. “panggil Ustadz dong Dell, walaupun umur kita gak beda jauh sama dia, tapi kita harus menghormatinya.”, Ustadz Yazid hanya tertawa kecil dan berkata, “Gapapa kok. Iya, aku yang menabrak kamu tadi. Maaf ya”. Karena jam pelajaran pertama ingin dimulai, akhirnya Della dan Khalila kembali ke kelas.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:10, Khalila mengajak Della untuk shalat zhuhur, tetapi seperti biasanya, Della selalu menolak untuk diajak shalat. Della hanya menunggu Khalila selesai shalat di depan masjid, tiba – tiba, Ustadz Yazid duduk agak dekat di dekat Della, tetapi Della membuang muka. Kemudian Ustadz Yazid menyapanya, “Lho kok kamu disini tapi gak shalat?”, Della menjawab, “Enggak, aku lagi nungguin temen aku shalat.”, tiba – tiba Khalila datang dan menyapa Ustadz Yazid “Assalamualaikum Ustadz, maaf ya Ustadz, si Della emang kalo disuruh shalat suka gamau.”, Della hanya menggerutu. Ustadz Yazid langsung menjawab, “Lho kok gitu sih.. Kamu harus shalat dong, itukan kewajiban kita sebagai umat islam.”. Karena Della kesal, akhirnya Della meninggalkan Khalila dan juga Ustadz Yazid.
Pada saat bel pulang, Della menaiki angkutan umum lagi dan turun didepan gang rumahnya, dari belakang, seperti ada yang mengikutinya. Akhirnya Della menghadap ke belakang, dan di belakangnya ternyata adalah Ustadz Yazid. Della bingung dan bertanya, “Lho kok kamu ada disini? Atau jangan – jangan kamu mau ngikutin aku ya?!”, Ustadz Yazid tertawa dan berkata, “kata siapa aku ngikutin kamu? Aku tinggal disebelah sana, rumah Pak Haji. Kamu tinggal disini juga?”, dengan rasa malu ia menjawab, “I..iya aku tinggal disini. Tapi, kamu siapanya Pak Haji? Pak Haji kan gak punya anak. Kebetulan rumah aku persis di depan rumah Pak Haji.”, “Iya, Pak Haji memang gak punya anak. Aku ini keponakannya beliau, aku asalnya dari Palembang. Tetapi, karena ibuku menyuruhku untuk tinggal di Jakarta dan mencari pekerjaan, akhirnya aku tinggal disini bersama Pak Haji.” Jawab Yazid.
Hari terus berlalu, semakin lama, Della semakin terbiasa dengan Ustadz Yazid. Ditambah lagi sekarang Della sudah mulai rajin beribadah shalat ke Masjid bersama Bu Haji,Pak Haji,Ustadz Yazid, dan juga orangtua Della. Keluarga Pak Haji sangat menyayangi Della seperti anak kandungnya sendiri, maklum, karena Pak Haji tidak bisa memilki keturunan. Hingga suatu ketika, pada saat Della sedang membeli nasi uduk untuk ayahnya yang sebentar lagi tiba dirumah selesai pulang bekerja, Della menuju pulang kerumah, tetapi didepan rumahnya ramai. Dengan rasa kebingungan, Della menuju kedalam rumah dan melihat ibunya menangis, dan didepan ibunya ada tubuh ayahnya yang tertidur kaku. Ya, ayahnya telah meninggal akibat kecelakaan. “Yah, bangun yah.. Della udah beliin nasi uduk kesukaan ayah, yah.. bangun yah” Della terus menangisi jenazah ayahnya. Bu Haji memeluk tubuh Della dengan erat. Ustadz Yazid dan Pak Haji menghampiri Della, “Turut berduka cita ya Dell, yang sabar. Menangis boleh, tetapi jangan sampai terlarut dalam kesedihan ya, gak baik juga soalnya. Kamu masih punya ibu kamu kok yang selalu sayang sama kamu. Semua ini pasti ada hikmahnya.”, kata Ustadz Yazid.
Hari telah berlalu, semenjak ayahnya meninggal, Della mulai belajar dengan giat agar dapat membanggakan ibunya, ia juga semakin dekat dengan Ustadz Yazid, karena mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Hari demi hari, Della sepertinya mulai menyukai Yazid, begitupun dengan Yazid. Tetapi, mereka sama sama tidak bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Della mengikuti ulangan susulan agama karena saat itu ayahnya meninggal, ia mengerjakan ulangan itu di ruang guru. Disana, hanya ada Ustdz Yazid dan Pak Taufiq. Banyak soal yang Della tidak tau dan ia bertanya kepada Pak Taufiq, “Pak,tolongin saya dong pak, soalnya susah banget sih.”, Pak Taufiq menjawab sambal tertawa, “kamu gimana sih, masa kamu yang ulangan jadi bapak yang ngerjain.”, Yazid hanya tertawa, dan Della hanya ngedumel.
Saat selesai ulangan susulan, Della dan Yazid langsung pulang, saat sampai didepan rumah, ada Bu Haji, ia mengajak Della untuk makan bersama keluarga Pak Haji, kebetulan juga ibunya Della sedang keluar. Akhirnya, Della menerima tawaran Bu Haji. Mereka saling berbincang – bincang, menceritakan masa kecilnya Della yang nakal dan lucu, dan juga bercerita tentang masa kecil Yazid. Della sempat mengambek saat Bu Haji menceritakan masa kecilnya Della kepada Yazid. Yazid hanya tertawa. Akhirnya, Della pulang kerumahnya dan berpas pasan dengan ibunya yang sudah pulang. Adzan Isya telah selesai dikumndangkan, setiap sehabis shalat isya, Yazid selalu kerumah Della untuk mengajarkan Della mengaji. Kini, Della mengaji sudah lumayan lancar dibarengi dengan tajwidnya, semua itu berkat Yazid.
Hari berlalu semakin cepat, 1 minggu lagi Ujian Nasional akan diadakan. Della mulai mempersiapkan diri dengan matang. Yazid selalu mensupport Della agar semangat dalam belajar. Yazid juga terkadang suka mengajarkan Della, jika ada soal yang tidak diketahui oleh Della. Hati Della semakin berbunga – bunga karena perhatian yang diberikan oleh Yazid kepadanya. Senyum dan tatapan Yazid sangat menyejukkan hatinya, yazid adalah seseorang yang sangat berpengaruh terhadap Della, karena Yazid telah mengubah Della menjadi orang yang lebih baik, Yazid telah membuat Della menjadi rajin beribadah, mengajari Della mengaji sampai lancar. Intinya, Yazid berarti buat Della. Tetapi, bagaimana dengan Yazid sendiri? Della pun tidak tau bagaimana perasaan Yazid kepadanya.
          Sebenarnya, Yazid sangat mencintai Della, tetapi ia tidak dapat mengatakannya karena ia tidak ingin berpacaran dan lebih lagi Della masih pelajar. Tapi, akankah mereka dapat bersatu?
Ujian Nasional telah selesai, Della hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Karena bosan berada didalam rumah seharian, akhirnya Della menghampiri Bu Haji yang sedang menyiram tanamannya. Sebenarnya, tujuan Della kerumah Bu Haji agar bertemu dengan Yazid. Della mengintip ngintip kearah jendela kamar Yazid, “Nyari siapa sih Del? Nyariin Yazid yaa?” goda Bu Haji. Della menjawab dengan malu, “Iih.. engga kok bu, aku lagi iseng iseng aja”. Tiba – tiba Yazid keluar dari rumah, “Nah,itu Yazid, kamu nyariin dia kan del? Nih zid, daritadi dia nyariin kamu terus” goda Bu Haji, Yazid hanya tertawa melihat pipi Della yang memerah. Karena Della malu, ia langsung masuk kedalam rumahnya, “iihh… Bu Haji ngapain bilang gitu ke Yazid sih, kan aku jadi malu. Ah tapi gapapa deh, yang penting aku udah melihat dia.”.
Pada saat makan malam, Yazid berbicara kepada Bu Haji dan Pak Haji bahwa besok ibunya dan adiknya ingin datang kesini. Mendengar kabar itu, Bu Haji dan Pak Haji merasa senang, karena sudah lama sekali tidak bertemu. Keesokkan harinya, saat Della sedang menyapu halaman rumah,ia melihat seorang gadis muda yang cantik di depan rumah Pak Haji, gadis itu bersama Yazid, mereka terlihat sangat akrab. Melihat hal itu, Della cemburu. Akhirnya, Della mengahampirinya dan berkata, “kalian akrab sekali ya, sangat cocok.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Della pun pergi meninggalkan mereka berdua, nampak mereka berdua sangat bingung. Saat masuk kedalam rumah, Della tak henti - hentinya  menggerutu. Ibunya bertanya kepadanya, “kamu kenapa kok ngomel ngomel terus, ada apa?”, Della menjawab, “gadis yang didepan bersama Yazid itu siapa sih mah?”, ibunya tertawa kecil, “Ooh, jadi kamu bete gara gara cemburu ya? Dia itu adalah adiknya Yazid. Kamu memangnya menyukai Yazid ya?”, dengan perasaan lega karena gadis itu adalah adiknya Yazid, ia sampai tidak menjawab pertanyaan ibunya, dan langsung memasuki kamar. Dari jendela, ia memperhatikan Yazid secara diam diam.
Waktu pengumuman hasil Ujian Nasional telah diumumkan, dan Alhamdulillah Della mendapatkan nem yang memuaskan. Ibunya, Bu Haji, Pak Haji, dan juga Yazid bangga kepadanya. Yazid menghampiri Della yang sedang berada di aula sekolah, “Nanti malam kamu harus temenin aku untuk melamar seseorang ya?”, yazid langsung meninggalkannya. Mendengar perkataan itu, Della langsung lemas, karena selama ini orang yang dicintainya ingin menikahi oranglain. Akhirnya Della pulang kerumah dan menguncikan diri didalam kamar dan berdoa dengan memohon agar Yazid tidak bisa menikah dengan wanita yang ingin dia lamar.
Pada sore harinya Yazid bertanya kepada Keluarga Bu Haji dan juga ibunya sendiri, “Bu, pak , mah.. Aku sebenarnya sangat mencintai Della, aku ingin melamarnya, kira – kira bagaimana pendapat kalian? Apa mamah setuju?”, ibunya menjawab, “ kalau menurut kamu dia pantas untuk kamu, dan kamu nyaman sama dia, mamah gaakan melarang.”, Akhirnya, pada malam harinya keluarga Yazid datang kerumah Della dengan tujuan melamar. Pada saat datang kerumah Della, della seperti tidak mood untuk berbicara. Akhirnya, Yazid berkata bahwa akan menikahinya. Della sangat senang, awalnya ia kira Yazid akan menikahi wanita lain, tenyata tidak.
Sebulan berlalu, waktu yang ditunggu tunggu oleh Yazid dan juga Della telah tiba, Della sudah berdandan cantik dan sudah siap, acara dilaksanakan di gedung yang lumayan jauh dari rumah. Tetapi, mengapa Yazid sangat lama datangnya? Mungkin dia terjebak macet. Akhirnya, Della dan keluarga besarnya serta tamu undangan terpaksa menunggu. Tiba – tiba hp ibunya Della berdering, saat mengangkat teleponnya, ibunya menangis. Sontak, della langsung mengambil hpnya, terdengar suara tangisan adik dari Yazid, “Kak Della..”, “Kamu kenapaaa?” jawab della dengan panik. “Kak Yazid meninggal kak, dia tadi terpeleset di kamar mandi” suara tangisan adik Yazid makin menjadi – jadi. Mendengar hal itu, Della tidak tau apa yang haus ia lakukan. Ia sangat sedih, telah kehilangan orang yang dia sayang. Setelah kepergian ayahnya, sekarang ia ditinggal oleh Yazid, calon suaminya. Della menangis tanpa henti, ia ingat dengan perkataannya saat itu bahwa orang yang akan dilamar oleh Yazid tidak akan menikah dengannya. Della sungguh menyesali perkataannya. Akhirnya, Della ikut ke pemakaman untuk melihat muka Yazid untuk terakhir kalinya..

Comments